Rabu, 17 Oktober 2018
04:32 WIB - Tips Kenakan Gaun Pengantin di Intimate Wedding | 04:25 WIB - Cara Politeknik LP3I Jakarta Meringankan Korban Gempa Bumi dan Tsunami Palu | 12:41 WIB - Ratna Listy Hilangkan Kerutan Wajah Lakukan Treatment Filler Collagen | 06:04 WIB - Cerita Artis Ini Alami Mati Suri | 05:13 WIB - Cara Menghilangkan Komedo | 11:42 WIB - Alasan Shahnaz Haque Berhati-Hati Pilih Treatment Kecantikan
 
MEDIA BINTANG (MB) : INSPIRASI : Kisah Sukses Tukang Foto Adji Watono Jadi Bos Advertising

Kisah Sukses Tukang Foto Adji Watono Jadi Bos Advertising

INSPIRASI - dudung/red - Rabu, 01/06/2016 - 09:02:29 WIB

mediabintang.com-Siapa sangka kalau pemilik perusahaan  Dwi Sapta Group, sebuah perusahaan advertising agency lokal yang bertahan lebih dari 35 tahun, dan mampu bersaing dengan perusahaan multinasional, awalnya adalah tukang foto. Beliau adalah  Adji Watono.

Keberhasilan yang kini diraihnya adalah upaya keras dan  kemampuannya mencari celah diferensiasi yang tidak dimiliki oleh orang lain.

“Untuk menjadi sukses, jangan takut. Yang penting dalam berbisnis harus mempunyai suatu yang berbeda. Jika tidak, sulit untuk mencapai kesuksesan," ucap CEO dan sang pendiri Dwi Sapta Group, Adji Watono diacara  peluncuran buku biografi perdananya berjudul 'Kisah Sukses Tukang Foto menjadi Boss Advertising: Pengalaman 35 Tahun Membangun Dwi Sapta'.

Ujarnya, dirinya memulai bisnis dari nol, atau  from zero to hero.
Untuk menjadi orang kaya, kalian tidak usah takut karena semua orang dilahirkan untuk bisa survive.

"Dulu saya cuma tukang foto, Sekarang, saya bos advertising. Dan membuat kita memiliki bos advertising," ungkapnya bersemangat.

Seperti diketahui pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah, kelahiram 17 Mei 1950 ini, kian melambungkan kelompok usahanya melalui sebelas korporat termasuk tahun ini mendirikan Inexus,  Integrated Digital Marketing Agency dengan berbagai penawaran bisnis layanan digital.
Sebuah pengembangan usaha menggunakan berbasis teknologi.



"Era (bisnis) sekarang ini, tidak bisa lepas dari  teknologi digital, dan kita tetap harus inovasi dan setiap waktu membuat sesuatu menjadi lebih baik (improve). Tanpa itu, kita akan terlibas oleh jaman," tutur lelaki yang masa mudanya dilepas oleh orangtuanya menempuh pendidikan di Jerman Barat (sekarang Jerman) dengan bekal modal keuangan yang terbilang minim, sehingga ia sempat mengalami perjuangan hidup selaku petugas kebersihan sampah dan kemudian menjadi pengemudi kendaraan truk.

Buku yang ditulis Agung Adiprasetyo (Ceo Kompas Gramedia 2006-2015)  bertajuk  'Kisah Sukses Tukang Foto Menjadi Boss Advertising - Pengalaman 35 Tahun Membangun Dwi Sapta' ini, mengupas pengalaman Adji watono membesarkan Dwi Sapta Group selama 35 tahun,  strategi Dwi Sapta untuk membangun merek klien yang ditanganinya. Selain itu, buku setebal 306 halaman ini juga berisi kisah pribadi, pengalaman, dan falsafah hidup yang mewarnai perjuangan pria kelahiran Kudus, 17 Mei 1950 tersebut.

"Saya bersedia menulis biografi Adji Watono yang menggambarkan upayanya selama 35 tahun membangun Dwi Sapta. Saya selalu suka orang-orang yang tabah, ulet, dan kreatif membangun sesuatu dari nol hingga sukses, juga terlebih lagi karena harapan bahwa mudah-mudahan kiat dan pandangan Adji watono bisa menjadi inspirasi dan bahan belajar yang baik buat siapa pun yang ingin menjadi wirausahawan sukses," jelas Agung.



Buku tersebut, tegas Agung, berbeda dengan tiga buku Adji watono sebelumnya (Advertising that sells, Advertising that Makes Money, dan IMC that sells).

"Buku biografi ini lebih banyak menceritakan hal pribadi yang terasa melankolis. Karena roh dan filosofi Dwi Sapta terbangun karena kultur dan warna sebuah organisasi dibentuk oleh pandangan atau sikap founder atau pimpinan tertingginya," kilah Agung.

Boleh dibilang, kata Agung, filosofi pandangan dan sikap selalu bisa menjadi inspirasi dan bahan belajar dan pandangan yang mengapa perusahaan tersebut mengapa sebuah perusahaan bertumbuh, dan sanggup melewati ujian badai serta angin ribut.

"Walaupun ada banyak dari masa sulitnya, tetap saja cerita perjuangan Dwi Sapta dari kertas polos hingga masuk dalam daftar biro iklan Indonesia terkemuka, yang bukan hanya sanggup bersaing dengan jagoan lokal, layak disimak," tuntas  Agung.

 
 
Redaksi | Tentang Kami
Copyright 2013