Selasa, 16 Juli 2019
20:26 WIB - PT. Blue Bird Tbk dan EF English First Luncurkan Program EF Mobile | 13:02 WIB - Maher Zain Gelar Konser di 8 Kota di Indonesia | 10:00 WIB - Abigail Khairunisa Lepas Single Istimewa, | 08:41 WIB - Presenter Jodhy Bangun Mushola Dengan Tenda? Ini Penjelasannya | 08:35 WIB - Pop Mix of The Stars Siap Guncang Blantika Musik Indonesia | 12:11 WIB - Film Mahasiswa Baru, Artis Lintas Generasi Beradu Ekting
 
MEDIA BINTANG (MB) : INSPIRASI : Ingat Ya, Kota Tua Itu Bernama Jakarta

Ingat Ya, Kota Tua Itu Bernama Jakarta

INSPIRASI - Ismail - Kamis, 27/06/2019 - 09:14:50 WIB

Mediabintang.com, Jakarta - Ini yang harus diingat, kota tua itu bernama Jakarta. Kota ini adalah oase sejarah dengan ragam ceritanya. Menyimpan banyak peninggalan masa lalu yang bernilai artistik. Museum Fatahillah, Pelabuhan Sunda Kelapa, Pecinan dan Pekojan, misalnya.

Dari catatan yang ada, Museum Fatahillah konon merupakan kantor pengadilan serikat dagang Belanda VOC. Banyak tragedi memilukan yang terjadi di gedung tua ini. Menjadi saksi atas perjalanan panjang Negara Republik Indonesia. Lalu apakah kita sudah memperlakukan bangunan bersejarah itu dengan sebagaimana mestinya?

Inilah yang juga menjadi kegelisahan seorang Heru Mulyadi, seniman dan budayawan yang gerah dengan ambisi budaya global. Menurutnya, sebaiknya kita tidak membiaskan nilai-nilai budaya lokal. Apalagi sampai memisahkan spirit generasi mudanya dari sejarah bangsa dan akar budayanya sendiri.

“Di era kekinian ini, ideologi dan warisan nilai kearifan hidup yang dianggap agung sering dimaknai secara sinis sebagai narasi lama. Sementara budaya global bersifat instan lebih mendapat tempat di hati masyarakat,” ujar Heru Mulyadi, saat dijumpai dalam acara ‘Pengembangan Destinasi Wisata Berdasarkan Karakteristik Kawasan Kota Tua Jakarta 2019’ yang digelar di Museum Fatahillah, Jakarta Barat (25/06/2019).

Event ini diselenggarakan oleh Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, di taman museum Fatahillah. Menampilkan berbagai atraksi kesenian, seperti musik Gambang Kromong, Tanjidor, dan kesenian Betawi lainnya.

Dalam rangka meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap destinasi wisata kota tua ini, panitia juga menggelar Festival Teater dan Lomba Lukis Sketsa dengan tema sesuai karakteristik kawasan kota tua. “Kegiatan ini diharapkan dapat semakin mendorong kreativitas anak-anak muda untuk mengerjakan, merasakan, dan kembali mengalami ‘harta warisan’ masa lampau. Khususnya di kawasan kota tua ini, seperti di Pecinan, Pekojan dan kawasan sekitarnya,” kata Heru.

Uniknya acara ini, seluruh elemen pendukung, dari mulai panitia penyelenggara, pengisi acara, pejabat terkait, hingga staf pelaksana; petugas keamanan, dan petugas kebersihan, semua mengenakan kostum tematik budaya ‘Pecinan’ dan ‘Pekojan.’

“Saya sebagai art designer mencoba mengaplikasikan nilai-nilai budaya yang melekat pada kawasan ini, khususnya budaya ‘Pecinan’ dan ‘Pekojan’ melalui peragaan busana. Semua penyelenggara acara dan pengisi acara, termasuk pejabat terkait menggunakan kostum Tionghoa (Pecinan), dan kostum Arab Pakistan (Pekojan) selama pelaksanaan kegiatan,” ujar Alumni Akademi Seni Drama & Film (Asdrafi) Yogyakarta, jurusan penyutradaraan tahun 1982 ini.

Kearifan lokal, termasuk diantaranya yang bersifat akulturasi, lanjut Heru, perlu mendapat pemahaman yang utuh. Akulturasi salah satunya menjadi indikasi adanya saling menerima terhadap kebudayaan yang berbeda. “Menjadi fondasi penting. Spirit, sikap, dan pandangan hidup bersama. Akulturasi diantaranya menciptakan toleran dan sikap saling menghargai walau budayanya berbeda,” ujar Heru.

Budaya toleransi diperlihatkan bagaimana pada tempo dulu, nenek moyang bangsa Indonesia dapat hidup berdampingan walau berbeda suku dan bangsanya. Ada Nusantara, India, China, Arab (Timur Tengah), dan bangsa lainnya. “Bangsa-bangsa ini kemudian membentuk budaya baru, budaya Indonesia yang kita terima hingga hari ini,” ujar pendiri bengkel kreatif Gardu Seni ini.

Secara historis, kota-kota di pulau Jawa merupakan kota-kota kolonial peninggalan rancang-bangun Belanda, termasuk kota tua Jakarta. Di kawasan kota tua Jakarta yang kini merupakan kawasan cagar budaya ini, selain Museum Fatahillah, ada juga destinasi wisata budaya kawasan ‘Pecinan,’ ‘Pekojan,’ dan kawasan Bahari (Sunda Kelapa).

Struktur sosial masyarakat kota tua Batavia (Jakarta) ini, menurut Kepala Satuan Pelaksana Pengawasan dan Penataan Kota Tua Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, *Asnelly Dwita Ali*, meninggalkan berbagai bukti perkembangan budaya. Berbagai elemen budaya kota tua Batavia tempo dulu ini ditunjukkan dari hasil ekskavasi antropologis, diantaranya budaya yang berkembang di kawasan ‘Pecinan,’ ‘Pekojan,’ dan kawasan Bahari (Sunda Kelapa).

“Masyarakat tahunya hanya Fatahillah. Padahal penataan destinasi wisata kota tua yang kami lakukan itu tidak hanya Museum Fatahillah. Destinasi lainnya ada, seperti kawasan Pecinan, Pekojan, hingga kawasan Sunda Kelapa,” terang Asnelly Dwita Ali.

Secara teritorial, lanjut Asnelly, kawasan Pecinan itu meliputi Glodok dan sekitarnya yang sejak dulu banyak bermukim suku Tionghoa. Sementara kawasan Pekojan adalah perkampungan di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Kawasan ini sejak era kolonial Belanda sudah dikenal sebagai kampung Arab, kampung _Khoja_. Pada masa itu di kampung ini banyak menetap imigran yang datang dari Hadramaut (Yaman Selatan).

Selanjutnya dua kawasan ini memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari terbentuknya kota Jakarta. “Di kawasan inilah ada berbagai budaya yang perlu kita ingat dan kita sampaikan ke masyarakat. Diantaranya budaya busana seperti yang kita pakai sekarang, yaitu budaya Pecinan (Tionghoa) dan budaya Pekojan (Timur Tengah),” papar Asnelly.

Pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kata Asnelly, terus mendorong agar masyarakat lebih peduli terhadap sejarah. “Kepedulian tersebut misalnya dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti pameran kerajinan, kuliner, pergelaran seni dan budaya yang mengandung nilai-nilai sejarah. Sehingga anak-anak masa kini tidak terputus dari akar sejarah bangsanya,” tutup Asnelly.

Hero

 
 
Redaksi | Tentang Kami
Copyright 2013