Rabu, 28 Oktober 2020
10:07 WIB - HJ Heni Suhaeni Raih Penghargaan Dari Keraton Kacirebonan Cirebon | 06:51 WIB - Sarifah : Wanita Butuh Tampil Cantik dan Menawan | 21:35 WIB - Kue Balok Si Mamang Tongkrongan Baru Bagi Kaum Milenial | 01:35 WIB - LPPMS Hasilkan Bibit Potensial di Bidang Kecantikan | 10:23 WIB - KH M. Toha Baedhowi Gantikan H. Ruyani Sebagai Ketua MUI Kecamatan Gunung Sindur | 08:01 WIB - MUI Kecamatan Gunung Sindur Gelar Pemilihan Ketua MUI Baru
 
MEDIA BINTANG (MB) : OASE : Cerita Dibalik Pendakian Gunung Lawu Oleh Komppas

Cerita Dibalik Pendakian Gunung Lawu Oleh Komppas

OASE - dudung - Sabtu, 03/10/2020 - 10:19:14 WIB

mediabintang.com,Bojonggede-Pendakian Gunung Lawu oleh Kelompok pemuda penggiat alam bebas Nusantara (Komppas), tidak terfikirkan mendapat rintangan yang cukup hebat. Mengingat jalan pintas menuju pos lima yang dilalui, sesuai anjuran kepala desa. Jalur yang mereka lalui, penuh semak belukar, bahkan selain mengalami kehabisan perbekalan air minum, anggota team juga ada yang mengalami luka-luka.

Tepat pukul 23.00 wib waktu Bogor, Jawa Barat, team Komppas yang diketuai Abdulloh, mulai melakukan pendakian ke Gunung Lawu bersama teamnya yang berjumlah enam orang. Pendakian yang dimulai pada 24 September 2020 itu, bukan merupakan pendakian pertama kalinya. Komppas yang terbentuk di Bojonggede di tahun 2017 itu, kerap melakukan pendakian ke gunung.

Pendakian ke gunung Lawu, merupakan pendakian ke-7 untuk gunung - gunung tinggi. "Pendakian ke gunung Lawu kali ini, sudah kami rencanakan jauh hari sebelumnya," terang Abdulloh seperti dilansir Situsnews.com beberapa waktu lalu.




Mereka memulai perjalanan ke titik utama basecamp pendakian melalui pintu gerbang Candi Cetho. Ada jalur khusus untuk pendakian dari gerbang Candi Cetho, tetapi karena di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang kepala desa, yang menyarankan melewati jalur cepat tuk sampai ke pos 5 yang akan mereka tuju, Abdulloh sebagai kepala team pun mengikuti anjuran sang kepala desa yang ditemuinya itu. 

Mereka menyebut perjalanan ini sebagai perjalanan purba via Babar yang dimulai dari pos 3 sampai pos 5.  "Perjalanan purba ini, kami namakan perjalanan liar, karena kami mendaki melalui jalur yang tidak semestinya, tapi  melewati jalan alternatif yang ditemani penduduk asli daerah setempat, maka kami percaya" ujar Abdulloh.

Perjalanan mereka tidak seperti yang diharapkan, karena jalur ini sudah lama tidak ada yang melewatinya, penuh semak belukar. Anggota team mulai ada yang luka-luka tangannya, bahkan ada juga yang pelipisnya terluka terkena semak duri.

Siang pun berganti malam. Waktu menunjukkan pukul 22.00 wib. Namun,team Komppas belum juga sampai pos 5, seperti yang mereka harapkan, tiba lebih cepat. Team Komppas pun mulai mengalami kelelahan. "Kami pun memutuskan tuk beristirahat," terang Abdulloh, menjelaskan rombongan yang diketuainya mulai alami kelelahan.

"Saat itu nyali saya dan teman-teman sempat merasa ciut," tutur Abdulloh.



Dalam terpaan angin yang kencang, team Komppas pun kerap tidur di sela-sela pohon pinus dan melakukankan perjalanan di kemiringan tebing gunung yang terjal, dan setiap saat bisa menghempaskan mereka pada kecelakaan.

Pagi menjelang, mereka pun mulai melanjutkan perjalanan. Persediaan air mulai habis dan tidak ada air yang bisa mereka jumpai dalam perjalanan. 

Mereka mengantisipasi tuk menjaga stamina tubuh mereka dengan membawa bekal madu yang ditaruh dalam plastik dan bisa mereka hisap-hisap selama dalam perjalanan.

Berbekal pengamalan dan latihan yang mereka lakukan sebelum perjalanan, membuat fisik mereka terjaga.

Menjelang pukul 08.30 wib, akhirnya mereka sampai di Padang Savana (pos 5). Di sisa tenaga, mereka mulai melanjutkan pendakian ke Gunung Lawu dan melewati Padang Savana yang membentang sepanjang perjalanan. 

Mereka juga melewati Gupak Menjangan (tempat yang biasa didatangi kawanan menjangan di musim hujan) juga melewati lokasi yang sangat mistis di Gunung Lawu, yaitu Pasar Dieng (pasar setan).

Konon di lokasi ini banyak pendaki yang alami halusinasi dan gangguan tertentu.

Beberapa ratus meter sebelum sampai puncak, mereka sampai di Hargo Dalem (warung tertinggi di dunia). Mbok Yem, penjaga warung ini sangat viral, "Beliau 
menyediakan makanan dan minuman untuk para pendaki," kata Abdulloh.

Perjalanan pun dilanjutkan tuk mendaki ke puncak Lawu. Kurang lebih 1 jam perjalanan, sampailah mereka di Puncak Lawu di ketinggian 3, 265 mdpl. 

Mereka mulai mentafakuri kebesaran Allah SWT yang merupakan misi dari pendakian mereka ke Gunung Lawu.

Setelah puas menikmati indahnya alam dari ketinggian puncak Gunung Lawu, mereka mulai meninggalkan Puncak Lawu dan kembali turun. "Kali ini kami turun melalui jalur resmi Candi Cetho," lanjut Abdulloh.

Team Komppas pun tiba di basecamp dengan selamat

"Alhamdulillah...kami sampai ke basecamp awal pendakian dan seluruh personil team dalam keadaan sehat Wal Afiat," ujar Abdulloh menutup pembicaraan.

Reporter  : Risa

Editor       : Dpriyatna

 
 
Redaksi | Tentang Kami
Copyright 2013